Langsung ke konten utama

Janji

"Aku tidak suka kamu terluka, itulah alasan aku selalu ada.
Aku tidak akan pergi, aku akan selalu ada.
Aku suka mencintaimu dengan segala tingkah anehmu yang menyebalkan.
Jangan khawatir, aku tidak akan lelah berkorban untukmu."
Aku tidak pernah lupa setiap kata yang kau ciptakan untukku.
Terkadang aku menangis mengingat hari ketika aku dan kamu menjadi kita. Aku mencari hal yang mampu mengundang tawaku, tidak ada jua.
Aku tidak menyesali apa yang telah terjadi sekalipun itu ketika kamu pergi, karena aku tau kamu akan kembali seperti janjimu.
Dan jikalau kamu suka keadaan ini, Aku akan terus seperti ini, aku tidak akan hilang. Kupastikan cintaku tidak akan hilang, aku akan menunggumu kembali.
Sama sepertimu,  aku menyukai ketika kita yang berawal dari ketiadaan dan akhirnya ada bersamamu meski kembali tiada.
SentiaPepayosaGinting

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Feature Sejarah Museum Letjen Jamin Ginting

Letnan Jenderal Jamin Ginting adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Beliau merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang memiliki tekad besar melindungi tanah air, terutama sewaktu masa penjajahan Jepang (1942-1945) dan Agresi Militer Belanda I dan II (1947-1949). Letjen Jamin Ginting lahir pada 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo. Semasa hidupnya, beliau telah menyandang  berbagai jabatan seperti Komandan Resimen, Komandan Pangkalan Tentara dan Teritorium, Panglima Tentara dan Teritorium Bukit Barisan di Sumatera Utara dan menjadi Asisten II Menteri Panglima Angkatan Darat dan Inspektur Jenderal Angkatan Darat di Jakarta. Pada tahun 1968 hingga tahun 1972, Letjen Jamin Ginting menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan juga menjadi Sekretaris Bersama Golongan Karya. Selain itu beliau juga pernah menjadi Ketua Diskusi Luar Negeri Indonesia dan Ketua Dewan Angkatan 45 serta menjadi Duta Luar Biasa Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untu...

Diam saja jika itu yg baik

Kini kusadar,  keadaan ini memang sangat sulit untuk dimengerti, terlalu besar untuk kukalahkan dan terlalu kuat untuk kulawan. Aku hanya mampu diam dan merenung.  Apakah selamanya begini? Ah,otakku buntu untuk berfikir kali ini.  Aku tak pumya cukup ilmu untuk menjawabnya. Aku seperti anak keong yg hanya mampu bersembunyi di rumahku sendiri, terlalu lemah,  terlalu bodoh pernah menikmati keadaan itu. Aku tidak tau apa yg akan kulalui setelahnya,aku tidak mengerti seperti apa duniaku sesudah ini. Aku tidak akan melawan,  aku juga tidak akan menentangmu. Aku hanya cukup diam Dan mengalah, karna bukankah mengalah bukan berarti kalah? Baiklah,  terlalu banyak aku berkata akan terlalu sulit untuk kamu pahami ini,  ya aku mengerti itu. Seperti pohon kaktus yang hidup di padang gurun, iya akan tetap mampu bertahan disana karna iya punya air hidupnya, aku juga sama. Aku akan bertahan dengan modal dan caraku sendiri. Aku tidak peduli sebagaimana keji kamu meni...
Nyatanya, kata "Kita" adalah empat buah huruf yang taklagi bermakna. Segala kata manis juga usaha, berakhir percuma. Bahkan janji untuk setia, tak bedanya seperti omong kosong belaka. Sekuat apapun aku bertahan dan menahan, kamu selalu berusaha melepas genggaman.  Dan akhirnya perpisahan tak terelakan, harus kurelakan. Karena tidak ada hati yang merasa nyaman berada dibawah tekanan, sekalipun itu dipaksa maka berujung menyakitkan. Kukatakan, setidaknya semua telah berujung sampai disini saja. Ingatlah, aku pernah menjadi wanita bebal yang keras kepala menolakmu untuk pergi. SentiaPepayosaGinting💖