Langsung ke konten utama

Literasi Wajah Pendidikan. " Rendahnya etika pelajar pada guru"

Rendahnya Etika Pelajar kepada Guru

Etika adalah baik dan buruknya perilaku, hak serta kewajiban moral, sekumpulan asa atau nilai-nilai yang berhubungan atau berkaitan dengan akhlak, nilai mengenai benar atau salahnya perbuatan maupun perilaku seseorang.

Hahaha,  lucu memang dunia ini SisBro. Tiada lagi rasa hormat menghormati. Iya kan, iya kan.  Gak bohong aku kan.  Ayooo kam jawab dulu yok.

Seperti yang sering terjadi saat ini, para pelajar tidak lagi memiliki etika yang baik. Dan kerap terjadi hal-hal yang menunjukkan bahwa rendahnya etika para pelajar terhadap guru sudah sangat parah. Guru yang mestinya dihormati dan dihargai sekarang malah dilawan dan tidak lagi disegani.
Eh eh, ini gak salah kan SisBro. Nanti tersesat pulak aku ke hati kam. Gak nyambung pun kan.  Hahaha

Merosotnya  budaya sopan santun pelajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari keluarga maupun dari lingkungan sekitar. Dan seharusnya orangtua pun turut ikut serta dalam hal ini. Sebab pelajar menghabiskan banyak waktunya di rumah dari pada di lingkungan sekolah. Jadi orangtua harus lebih banyak mengajarkan tentang sopan santun kepada anaknya.

Teknologi Informasi dan Komunikasi yang disalahgunakan  juga menjadi pengaruh yang sangat buruk bagi perilaku pelajar zaman sekarang ini, apalagi sekarang teknologi sudah semakin canggih dan bisa memengaruhi pola pikir para pelajar.  Iya kin, suka suka nya aja hidup ini kan.  Kam ya kam,  aku ya aku.

Zaman dulu, para pelajar  sangat takut untuk lewat ataupun berpapasan dengan guru dan akhirnya mereka memilih untuk melewati jalan lain.
Tapi lain halnya dengan pelajar  zaman sekarang, biarpun ada guru mereka santai saja lewat, menundukkan badan sedikit pun tidak. is is is,  jangan kam tiru ini ya gak baik.  Kalo perlu tunduk setunduk tunduk nya kam nanti.  Gak usah deh nanti sakit pula punggung kam.

 Etika sangat berperan penting bagi semua orang terutama para pelajar, ketika seorang pelajar tidak memiliki etika ia akan semena-mena kepada siapa saja yang sedang berada di hadapannya, baik itu teman sebayanya, maupun orang yang lebih tua darinya. Ia akan memperlakuan setiap orang sesuka hatinya saja sebagaimana yang ia inginkan.

Iya, sesuka hati.  Seperti kam datang dan pergi saja tanpa peduli senjaku perlahan hilang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Feature Sejarah Museum Letjen Jamin Ginting

Letnan Jenderal Jamin Ginting adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Beliau merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang memiliki tekad besar melindungi tanah air, terutama sewaktu masa penjajahan Jepang (1942-1945) dan Agresi Militer Belanda I dan II (1947-1949). Letjen Jamin Ginting lahir pada 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo. Semasa hidupnya, beliau telah menyandang  berbagai jabatan seperti Komandan Resimen, Komandan Pangkalan Tentara dan Teritorium, Panglima Tentara dan Teritorium Bukit Barisan di Sumatera Utara dan menjadi Asisten II Menteri Panglima Angkatan Darat dan Inspektur Jenderal Angkatan Darat di Jakarta. Pada tahun 1968 hingga tahun 1972, Letjen Jamin Ginting menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan juga menjadi Sekretaris Bersama Golongan Karya. Selain itu beliau juga pernah menjadi Ketua Diskusi Luar Negeri Indonesia dan Ketua Dewan Angkatan 45 serta menjadi Duta Luar Biasa Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untu...

Diam saja jika itu yg baik

Kini kusadar,  keadaan ini memang sangat sulit untuk dimengerti, terlalu besar untuk kukalahkan dan terlalu kuat untuk kulawan. Aku hanya mampu diam dan merenung.  Apakah selamanya begini? Ah,otakku buntu untuk berfikir kali ini.  Aku tak pumya cukup ilmu untuk menjawabnya. Aku seperti anak keong yg hanya mampu bersembunyi di rumahku sendiri, terlalu lemah,  terlalu bodoh pernah menikmati keadaan itu. Aku tidak tau apa yg akan kulalui setelahnya,aku tidak mengerti seperti apa duniaku sesudah ini. Aku tidak akan melawan,  aku juga tidak akan menentangmu. Aku hanya cukup diam Dan mengalah, karna bukankah mengalah bukan berarti kalah? Baiklah,  terlalu banyak aku berkata akan terlalu sulit untuk kamu pahami ini,  ya aku mengerti itu. Seperti pohon kaktus yang hidup di padang gurun, iya akan tetap mampu bertahan disana karna iya punya air hidupnya, aku juga sama. Aku akan bertahan dengan modal dan caraku sendiri. Aku tidak peduli sebagaimana keji kamu meni...
Nyatanya, kata "Kita" adalah empat buah huruf yang taklagi bermakna. Segala kata manis juga usaha, berakhir percuma. Bahkan janji untuk setia, tak bedanya seperti omong kosong belaka. Sekuat apapun aku bertahan dan menahan, kamu selalu berusaha melepas genggaman.  Dan akhirnya perpisahan tak terelakan, harus kurelakan. Karena tidak ada hati yang merasa nyaman berada dibawah tekanan, sekalipun itu dipaksa maka berujung menyakitkan. Kukatakan, setidaknya semua telah berujung sampai disini saja. Ingatlah, aku pernah menjadi wanita bebal yang keras kepala menolakmu untuk pergi. SentiaPepayosaGinting💖